Wednesday, January 14, 2009

Masyarakat Jatim Tahan Bencana (dimuat di Harian Surya, 14 Januari 2009)


Kondisi geografis, geologis, hidrologis, dan demografis Jatim menyebabkan sebagian besar wilayah Jatim rawan bencana. Ada beberapa macam bencana yang berpeluang terjadi di Jatim dan berpotensi menimbulkan gangguan dari fungsi masyarakat yang dapat mengakibatkan kehilangan nyawa, material atau kerusakan lingkungan.

Di antara macam bencana yang patut diwaspadai ialah bencana banjir, letusan gunung berapi, tanah longsor serta angin puting beliung. Kerawanan banjir terjadi di hampir semua kabupaten dan kota di Jatim. Wilayah potensi bencana banjir tinggi ada di daerah aliran sungai Bengawan Solo meliputi kabupaten Ngawi, Madiun, Tuban, Bojonegoro dan Lamongan. Di sekitar aliran sungai Brantas meliputi kabupaten Mojokerto, Lamongan dan Sidoarjo serta di kabupaten Pasuruan, Situbondo dan Jember. Wilayah potensi rawan bencana letusan gunung berapi ada di lokasi seputar Gunung Kelud meliputi kabupaten Kediri, Blitar, Tulungagung dan Malang.

Wilayah yang rawan longsor meliputi 21 daerah yang ada di sekitar jalur pegunungan yang membentang dari timur ke barat Jatim, meliputi Gunung Lawu, Wilis, Kelud, Arjuno-Welirang, Bromo, Semeru, Argopuro, dan Ijen-Raung. Sedangkan wilayah potensi rawan serangan agin puting beliung adalah kabupaten Madiun, Kediri, Nganjuk, Jombang, Malang, Sidoarjo, Surabaya, Ngawi dan Bondowoso.

Dalam laporan sementara kejadian bencana dan rekapitulasi kejadian bencana yang dirilis Posko Satkorlak, Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi Propinsi Jatim hingga awal Desember 2008, tercatat ratusan rumah, fasilitas umum seperti masjid dan mushola, gedung sekolah, jalan, badan jalan, jembatan, saluran air, tanggul sungai, tangkis dam dan saluran irigasi rusak. Tafsiran kerugian materi mencapai miliaran rupiah. Fakta tersebut merupakan pelajaran yang sangat berharga dalam rangka mengurangi angka kerusakan dan kerugian materi.

Prakiraan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) mengabarkan bahwa pada bulan Januari dan Februari 2009, cuaca Jatim akan memasuki musim hujan yang cukup tinggi. Intensitas hujan yang besar, setelah musim kemarau yang panjang, dapat dipastikan berbagai daerah sangat berpotensi mengalami bencana, seperti banjir, tanah longsor dan puting beliung

Berbagai Usaha
Dalam rangka mengurangi angka kerusakan dan kerugian jiwa dan materi yang disebabkan oleh bencana, berbagai upaya telah ditempuh oleh pemerintah. Pejabat Gubernur Jatim, Setia Purwaka menghimbau kepada para kepala daerah kabupaten/kota untuk tidak bepergian pada musim hujan saat ini yang dinilai rawan bencana alam. Di beberapa lokasi yang diprediksi rawan bencana gunung berapi seperti di Kediri dan Blitar, rawan banjir bandang di Situbondo serta rawan bencana tsunami di Banyuwangi dan Pacitan telah dipasang peralatan peringatan dini yang menjadi bagian jaringan peringatan dini nasional.

Dinas Kehutanan Jatim mencatat sebagian dari wilayah hutan di Jatim yang kritis seluas 433.010.87 hektar, telah ditanami. Wilayah yang masih gundul dan berpotensi ditanami kembali hanya tersisa 360.000 hektar. Penghutanan kembali dengan reboisasi tersebut sebenarnya telah dilakukan sejak tahun 2006.

Selain itu, instansi pemerintah telah melakukan penanganan dan pembenahan di sepanjang aliran sungai. Departemen Kimpraswil telah melaksanakan pembangunan berbasis sipil, berupa pembangunan waduk dan pengurungan sungai. Proyek yang mendapat bantuan luar negeri tersebut tersebar sejak bagian hulu sampai hilir, sepanjang aliran sungai.

Usaha kelembagaan lain yang bersifat konsultatif ialah rekomendasi kepada pimpinan daerah di Jatim untuk menjadikan perubahan iklim sebagai prioritas program kerja selama 5 tahun ke depan. Sesuai Undang-Undang, pimpinan daerah harus menyiapkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) untuk periode 5 tahun. Pengarusutamaan perubahan iklim, seharusnya menjadi agenda penting dalam RPJMD pimpinan daerah Jatim.

Sebuah langkah maju, bahwa pemerintah telah menerbitkan Undang-Undang No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Pasal 8 Undang-Undang tersebut menunjuk tanggung-jawab pemerintah daerah dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana meliputi: penjaminan pemenuhan hak masyarakat dan pengungsi yang terkena bencana, perlindungan masyarakat dari dampak bencana, pengurangan risiko bencana dan pemaduan pengurangan risiko bencana dengan program pembangunan serta pengalokasian dana penanggulangan bencana dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.

Hal itu didukung oleh Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana. Peraturan pemerintah ini memberi petunjuk rinci tentang situasi pra bencana yang meliputi situasi tidak terjadi bencana dan situasi terdapat potensi terjadi bencana serta situasi tanggap darurat dan situasi pasca bencana.

Berbasis Masyarakat
Pada situasi pra bencana terdapat kata kunci tentang pentingnya perencanaan penanggulangan dan pengurangan resiko bencana. Dua hal ini merupakan unsur penting sekaligus baru dalam konteks manajemen bencana. Perencanaan penanggulangan bencana dan pengurangan resiko bencana merupakan usaha mendesak yang dilakukan dalam situasi pra bencana. Kedua hal tersebut masih asing dikenal masyarakat di lokasi rawan bencana, apalagi yang bencananya memiliki karakter berulang dan kurang lebih sama.

Dari berbagai hal berkenaan dengan bencana yang telah dilakukan di Jatim, selain aneka upaya formal, kelembagaan pemerintah, amat penting untuk melibatkan dan meningkatkan peran serta masyarakat. Inilah yang digarisbawahi dalam protokol Hyogo yang kemudian dikenal dengan paradigma berbasis masyarakat (community-based) atau dimanajemani oleh masyarakat (community-managed).

Mengapa masyarakat? Karena masyarakat, khususnya di lokasi rawan bencana terbiasa dengan ancaman bencana, memiliki pengalaman yang sama dalam menghadapi bahaya dan bencana. Selain itu, masyarakat perlu meningkatkan kemampuan mengelola usaha-usaha pengurangan resiko bencana secara sistematis dan menjadikan mereka masyarakat yang aman dan memiliki ketahanan.

Dalam perencanaan dan pengurangan resiko bencana berbasis masyarakat, masyarakat diajak dan dijadikan sumber pertama secara partisipatif untuk menemukan kajian kapasitas, kajian ancaman dan resiko serta kajian kerentanan dalam kerangka manajemen resiko bencana. Pengenalan kajian tersebut ditujukan untuk mengetahui seberapa besar resiko bencana. Jika ternyata kapasitas masyarakat tinggi sedangkan ancaman, resiko dan kerentanan rendah, maka resiko bencana masyarakat rendah. Namun sebaliknya, jika kapasitas masyarakat rendah sedangkan ancaman dan resiko serta kerentanan tinggi, maka resiko bencana masyarakat tinggi.

Selama ini keterlibatan masyarakat dalam perencanaan dan pengurangan resiko bencana masih sangat minim. Atau jika dilibatkan, keterlibatan itu sifatnya setengah-setengah. Penekanan oleh masyarakat sangat diperlukan. Masyarakat dilibatkan dalam analisa, kajian kebutuhan dan perencanaan, bahkan dalam pembuatan keputusan yang mendesak. Pola hubungan yang dilakukan oleh pemerintah atau lembaga swadaya masyarakat sebagai fasilitator seharusnya berpola subyek-subyek, di mana masyarakat yang menjalankan dan fasilitator hanya memfasilitasi. Metode yang digunakan sebaiknya pembelajaran berdasarkan pengalaman berkelanjutan yang saling melengkapi, bukan sekedar transfer ilmu.

Perencanaan dan pengurangan resiko bencana berbasis dan oleh masyarakat menempatkan masyarakat sebagai pengambil inisiatif, lepas dari ide, gagasan, proyek pilihan pihak luar. Masyarakat sepenuhnya berkuasa atas seluruh kegiatan. Sehingga perencanaan dan pengurangan resiko bencana melewati tahap demi tahap yang mengerucut menjadi milik masyarakat. Pada akhirnya tercipta kesadaran masyarakat atau yang disebut masyarakat sadar dan tahan bencana.

Tanpa melibatkan masyarakat, berbagai usaha yang dilakukan pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat dalam rangka perencanaan dan pengurangan resiko bencana hanya sebuah proyek jutaan atau bahkan miliaran rupiah yang tidak dimengerti dan tidak didukung masyarakat. Akibatnya masyarakat di lokasi rawan bencana tidak pernah dididik menghadapi bencana, berulang kali mengalami akibat bencana dan menjadi korban paling buruk jika bencana terjadi. Padahal dengan melibatkan masyarakat, masyarakat diajak untuk meningkatkan kapasitas dalam rangka mengurangi resiko bencana. Ancaman, resiko dan kerentanan bencana bisa tinggi dan berubah semakin tinggi, namun jika kapasitas masyarakat ikut ditingkatkan, akan tercipta masyarakat yang sadar dan tahan bencana.

Saturday, December 27, 2008

Inspirasi Akhir Desember


Hadiah Natal

Di hari menjelang Natal, dalam kamar pengakuan dosa, sesudah memberikan berkat, saya mengajak dialog seorang anak. “Nanti di hari Natal kamu melakukan tindakan apa untuk orang tuamu, sebagai tebusan dosa?” Anak kecil itu diam dan senyum-senyum. “Ayo coba sebutkan”, tantang saya lagi. Lalu jawaban spontan dia, “Mau memberi hadiah”. Saya kejar lagi, “Hadiah apa?” Kembali anak itu diam, senyum-senyum sambil berpikir. Tiba-tiba jawabannya spontan lagi, “Belum tahu, pokoknya hadiah”. Lalu saya Tanya lagi, “Terus beli hadiah, uangnya dari mana?”. Kali ini dia tertawa kecil, tersipu-sipu malu. Kemudian menatap lagi dan mengucapkan, “Hadiah saya, doa untuk orang tua”. Saya mengangguk setuju dan mengatakan bagus. “Benar ya jangan bohong”, kata saya lagi sambil mempersilahkannya meninggalkan kamar pengakuan. Anak itu berlalu sambil mengucapkan terima kasih.

Berbicara tentang hadiah, ada kisah di hari Natal, tentang seorang anak kecil berkeinginan memberikan hadiah untuk orang tuanya. Kebetulan anak ini masih seusia SD, namun hanya hidup bersama bapaknya saja. Tidak ada saudara dan ibunya sudah lama meninggal. Hidup sendiri sering membuat orang tuanya stress, menjadi ayah sekaligus ibu baginya bukan hal yang mudah. Karena itu bapak itu sering marah. Marah yang tanpa sadar juga berimbas pada anak kecilnya. Namun, karena berniat baik ingin memberikan kasih kepada bapaknya daripada marah, membalas sikap kasar dengan kelembutan,maka muncullah ide memberi hadiah untuk sang bapak. Dengan harapan bapaknya senang dan semakin sayang kepadanya.

Hadiah itu dibungkus sebuah kotak kecil. Kotak kecil itu dibungkus sederhana dengan kertas koran. Pada malam Natal, di saat yang dirasa tepat, anak itu menghampiri bapaknya yang sedang duduk nonton televisi. “Pak ini ada hadiah buat bapak. Bapak boleh buka”. Seketika itu juga diraihnya hadiah itu, dibuka bungkus koran dan dibuka kotak. Tak disangka, tak ada apa-apa dalam kotak itu, kosong. Maka bangkitlah amarah sang bapak. “Anak kurang ajar. Kamu beri bapak kado Natal kosong..!!” bentak bapak itu sambil melempar hadiah itu keluar rumah.

Dengan getir, anak itu memunggut hadiah yang baru saja dibuang oleh bapaknya. Diambilnya dalam suasana hujan dan hadiah itu sudah belepotan lumpur. Kemudian ia mendekat ke bapaknya sambil berkata, “Pak, bapak jangan marah. Saya tadi mengisi kotak itu dengan sejuta ciuman. Ciuman itu tanda sayang saya buat bapak. Mengapa bapak marah dan membuangnya? Ini tanda cinta saya buat bapak.” Mendengar perkataan anaknya, mendadak bapak itu menyesal dan memeluk anaknya dan menghujani pipi mungil anaknya dengan ciuman penuh kasih sayang sambil meminta maaf.

Perayaan Natal baru saja berlalu. Makna apa yang kita bawa? Makna apa yang sudah berikan di hari Natal. Semoga Natal yang berlalu memberi pesan dan kesan pada kita. Dan semoga kita tidak membiarkan Natal tahun ini kosong dan berlalu tanpa makna.

Tahun Baru: Iman Atau Ramalan?

Setiap akhir tahun selalu tampil aneka ramalan tentang apa yang terjadi tahun depan. Di akhir tahun ini, muncul aneka ramalan. Tentang ancaman PHK masal di sejumlah industri padat karya, sebagai dampak krisis finansial global. Isu tersebut diperkuat kabar perusahaan Toyota yang mempertimbangkan memutuskan hubungan kerja sebanyak 3.000 pekerja kontrak, tahun depan.

Belum lagi aneka ramalan yang dimunculkan Mama Lauren dan Permadi. Mama Lauren meramal akan terjadi kekacauan politik, dua politisi diramal tewas terbunuh. Kekacauan akan berefek pada PHK, sehingga jumlah pengangguran semakin tinggi dan banyak perusahaan akan gulung tikar. Selain ramalan tentang maraknya kawin cerai, aneka bencana dan kecelakaan yang mengancam nyawa manusia. Sementara Permadi meramalkan suhu politik Indonesia tahun 2009 akan tinggi, mengarah pada disorientasi, bahkan Pemilu 2009 sendiri tidak akan terwujud.

Ramalan buruk mirip kabar buruk yang membuat sesak, seakan masa depan suram. Namun ada juga yang melihatnya sebagai sah-sah saja, justru karena kabar buruk itu manusia diingatkan untuk berhati-hati dan mengantisipasi. Sambil berharap, semoga ramalan itu tinggal ramalan belaka. Atau kalau pun terjadi, sudah siap, punya jalan keluar atau punya plan B.

Begitu kuatnya pengaruh ramalan, prediksi supranatural dan mitos adikodrati, diam-diam disetujui. Meksipun yang diimani juga Allah. Buktinya, memasuki bulan Suro tak ada yang melaksanakan hajatan, hari baik-hari buruk masih jadi perhitungan, lelaku dan tirakat dijalankan sebagai upaya menghindari celaka.

Lalu bagaimana sebaiknya umat yang beriman Katolik, yang percaya bahwa Yesus membawa kabar gembira keselamatan kepada manusia. Secara tegas, Katekismus Gereja Katolik mengatakan, Gereja melarang segala macam ramalan, yang tentangnya orang berpendapat tanpa alasan, seakan-akan mereka dapat membuka tabir masa depan (KGK 2116). Karena itu, seorang Kristen harus menyerahkan masa depan dengan penuh kepercayaan kepada penyelenggaraan Illahi dan menjauhkan diri dari tiap rasa ingin tahu yang tidak sehat. (KGK 2115).

Hal ini diserukan oleh nabi Yesaya, “Biarlah tampil dan menyelamatkan engkau orang-orang yang meneliti segala penjuru langit, yang menilik bintang-bintang dan yang pada setiap bulan baru memberitahukan apa yang akan terjadi atasmu! Sesungguhnya, mereka sebagai jerami yang dibakar api, mereka tidak dapat melepaskan nyawanya dari kuasa nyala api” (Yes 47: 13-14).

Akhirnya, baik atau seburuk apapun ramalan, kita hanya mempercayakan diri dan masa depan kepada Penyelenggaraan Illahi, sebab Yesus sendiri mengatakan, “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat 28:20). Kita syukuri apapun yang terjadi dan akan terjadi, seraya senantiasa siap memikul salib dengan setia, jika memang kehendakNya. Suka duka, bahagia derita kita serahkan kepadaNya. Tuhan memberkati peziarahan kita.

Untuk Apa Allah Menjadi Manusia ?

Awal bulan Desember ketika diminta memberi rekoleksi sehari di sebuah universitas, saya mengenal seorang mahasiswi yang begitu ceria, penuh semangat dan kelihatan tanpa masalah. Tak ada yang menyangka bahwa di balik senyumnya yang ceria, dinamikanya yang penuh semangat justru ketika mendapat kesempatan bersharing ia mengisahkan, bagaimana kehidupannya yang penuh dengan kekelaman.

Ia menceritakan ayahnya meninggal ketika masih kelas 2 SMP, “dibacok orang”, katanya. Kematian ayahnya itu kemudian menyeret ibunya masuk penjara dan dihukum seumur hidup. Ibunya diduga terlibat dalam rencana pembunuhan suaminya sendiri. Sementara ketiga adiknya masih membutuhkan kasih sayang dan biaya untuk sekolah. Ia pun harus tinggal di sebuah panti asuhan sementara adik-adiknya diasuh om dan tante.

Melewati kenangan pahit itu, kini ia bisa kembali hidup bersama dengan ibunya yang telah bebas karena mendapat remisi. Juga bersama adiknya di sebuah rumah. Namun beban masih ada, karena ibunya sakit, kondisinya lemah dan tak bisa bekerja. Pula biaya sekolah dan rencana meneruskan kuliah adiknya. Semua mata menatapnya tak percaya, seperti tersihir kisah surprise karena berbeda dengan kesehariannya yang tampak ceria. Segera setelah usai bersharing, tepuk tangan membahana.

Di akhir rekoleksi ketika bertemu dengannya saya sempat mengucapkan, “Kamu hebat…”. “Lho kenapa Romo?”, tanyanya.”Kalau saya yang mengalami itu pasti saya tidak tahan. Mungkin sudah bunuh diri”, jawab saya sekenanya. “Kok gitu?”, kejarnya lagi. “Ya kamu tidak kelihatan rapuh. Kebanyakan temanmu juga tidak menyangka kan?. Kamu kelihatan ceria, aktif dan seperti tidak ada masalah”. “Romo, yang hebat itu bukan saya, tapi Mas J”, katanya. J artinya Yesus.

Lalu ia mengisahkan bahwa banyak orang yang membantunya, mendukungnya dan selama ini membiayai kuliahnya. Itu semua yang direfleksikannya sebagai kebaikan Yesus. Karena ada orang yang masih berbuat baik itulah, ia masih bisa melihat kebaikan Yesus. Karena ada orang yang membantu meringankan beban hidupnya, membantu biaya kuliah dan sekolah adik-adiknya itulah maka ia masih bisa merasakan bahwa Allah itu baik, Allah itu maha kasih dan penyayang.

Perjumpaan dengan seorang yang berbeban berat dan masih bisa merasakan kebaikan Tuhan menyadarkan saya. Semoga kita pun bisa mengalami kasih sayang Allah. Lebih dari itu semoga kita juga meneruskan kasih sayang Allah kepada mereka yang membutuhkan. Allah rela menjadi manusia supaya kita sebagai manusia lebih mudah mengalami kasihNya dan belajar bagaimana cara Allah mengasihi manusia. Dan kita pun ditantang menjadi saluran kasihNya, agar sebanyak mungkin orang mengalami dan merasakan kasihNya. Memang, Allah menjadi manusia tak lain agar sebanyak mungkin orang mengalami dan merasakan kasihNya. Selamat Natal 2008.

Cinta Itu Memberi dan Tak Harap Kembali…

Love at the first shoot, cinta pada bidikan pertama. Begitu kisah seorang cowok fotografer ketika begitu serius hendak mengabadikan pemandangan kota untuk melengkapi koleksinya, justru terhalang oleh tubuh seorang cewek yang melintas. Momen yang ditunggu pun berlalu, begitu cewek itu berlalu. Namun, tap…tatapan matanya terpaku lama pada cewek cantik yang menganggu dan menghalanginya tadi. Rasa marah dan kecewa kehilangan momen mendadak jadi sirna berubah menjadi kekaguman pada sang penganggu. Geram berubah jadi senyuman, kecewa berubah jadi terpana. Dan jepret…jepret..jepret…beberapa bidikan kamera foto tak kuasa menahan momen terindah yang melintas di depannya.

Perjumpaan yang begitu saja tak disangka ternyata ada lanjutannya, ketika sang cowok pada suatu kesempatan memasuki sebuah salon untuk memotong rambutnya. Duduk di kursi menghadap kaca, memakai kain pelindung tubuh, siap untuk dicuci rambutnya dan di-creambath. Entah karena apa sang pencuci teledor sehingga mata cowok itu terkena sabun yang membuatnya perih kesakitan. Lalu dengan panik cewek pencuci itu, mengambilkan air bilas dan kain untuk membasuh sambil terus memohon maaf atas kesalahan yang dibuatnya tak sengaja. Dampratan dan makian datang justru bukan dari cowok itu, namun dari sang pemilik salon yang merasa malu, karyawannya bekerja tak sempurna. Namun tidak dengan cowok itu, ketika segera terbuka matanya dan menatap cewek yang mencuci rambutnya ternyata cewek yang sama yang ditemuinya saat menghalangi sesi pemotretan.

Kekaguman cowok itu untuk kesekian kali karena lupa diri. Ketika suatu malam cewek itu datang ke rumahnya mengembalikan topinya yang tertinggal di salon. Perjumpaan yang kemudian berlanjut dengan hari-hari terindah di antara keduanya. Sang cewek berusaha mengenal sang cowok, begitu sebaliknya, termasuk kesukaan, hobi dan minat di antara mereka.

Suatu malam ketika asyik memilah-milah film yang harus dicuci-cetak, sang cowok meminta tolong kepada sang cewek untuk mengambilkan cairan film yang ditaruh di atas lemari kamarnya. Dengan semangat ia masuk ke kamar. Sesampai di kamar di carinya botol cairan film di atas lemari dan diraihnyat tak sempurna…Aduuhhhh….!!!, jerit sang cewek demi cairan keras itu terlepas dari gengamannya dan mengenai kedua mata indahnya. Perih…gelap dan hanya tangis kesakitan yang terdengar dari mulutnya membuat panik sang cowok.

Sesampai di rumah sakit, dokter memutuskan mata cewek itu terpaksa menjadi buta. Bagai disambar petir di siang bolong, mendengar ucapan dokter itu rasa kecewa, dosa dan bersalah ada di hati sang cowok. Mengapa ia menaruh botol cairan keras di atas, mengapa pula harus menyuruh cewek itu bukan mengambilnya sendiri, mengapa semua harus terjadi dan menimpa dia…Sesal datang kemudian ketika luka lebih dalam dari impian.

Keputusan dalam sesal itu demi cinta. Tak ingin cewek secantik dia harus menderita, apalagi karena salahnya, tak rela yang dicintainya menanggung sengsara dan ingin menolongnya sebisanya, sahabis-habisnya. Meski harus kehilangan yang terbaik yang dimilikinya, demi cinta akan dilakukannya untuk dia yang dicintainya. Keputusan sudah diambil, ia akan mengorbankan dirinya untuk kebahagiaan ceweknya.

Di meja operasi keduanya bersebelahan, yang satu akan menerima yang lain akan kehilangan. Semua terjadi karena cinta. Mata cowok itu didonorkan demi cewek itu mendapatkan mata baru, agar ia bisa melihat, agar ia tak menderita, agar ia bahagia. Sebagaimana ucapan cewek itu, “akan berbahagia jika bisa melihat lagi seperti sediakala dan ingin melihat orang yang dicintai dan mencintainya sebelum akhir hidupnya”.

Betapa senang ketika hari penantian tiba, ketika cewek itu boleh membuka perban-perban yang selama ini menutup matanya. Betapa bahagia ketika satu persatu perban itu akan lepas dan keindahan akan ia lihat lagi seperti sediakala…Betapa bahagia ketika tahu salah satu yang hadir dalam acara pelepasan perban itu adalah cowok yang dicintainya. Tertawa dan bahagia, ia melihat lagi, senangnya semua menyambut dengan tawa ceria.

Namun tak lama, ketika dilihatnya cowoknya yang berdiri di dekatnya memakai kacamata hitam dan tongkat bertanda merah, tongkat orang buta. Mengapa ? tanyanya tak percaya. Lalu dokter menjelaskan, kamu pantas berterima kasih kepadanya, karena ia yang mendonorkan mata untuk kamu. Ia mau melakukannya demi kamu, karena mencintaimu. Tawa bahagia itu berubah jadi air mata, entah air mata apa.


Ketika Allah menjadi manusia, Allah rela melepaskan diri dari keagungannya, mengambil rupa hamba sama seperti manusia, mengorbankan diri memberikan yang terbaik untuk kita. Ia melakukanNya dengan cinta, sehabis-habisnya, hanya memberi tak harap kembali, supaya manusia bahagia. Bertanyalah, siapa yang selama ini mencintai kita dengan cinta sehabis-habisnya, dengan pengorbanan tak harap kembali dan ucapkanlah terimakasih dan selamat Natal kepadanya.