Monday, March 24, 2008

Bangkit Dalam Bencana (dimuat di Harian Surya, 23 Maret 2008)


“Adakah yang berinisiatif membantu kami di sini ?”, “Listrik mati, air mulai naik kami membutuhkan bantuan segera” atau tulisan yang dibawa warga korban lumpur, “Omah kelem, mangan gak oleh. Yok opo iki”.

Demikian ungkapan para korban bencana sejak Desember lalu hingga pertengahan Maret, ketika banjir kembali melanda. Saudara-saudara di lokasi bencana di Ponorogo, Madiun, Ngawi, Bojonegoro, Cepu, Tuban, Lamongan, Gresik, Kediri, Pasuruan dan Situbondo. Juga warga korban lumpur di seputaran Porong kembali mengetuk keprihatinan.

Curah hujan begitu tinggi dan musim hujan ternyata relatif panjang dari prediksi Badan Meteorologi dan Geofisika yang memperkirakan berakhir pada Februari lalu. Banjir dan tanah longsor menjadi ancaman setiap kali hujan deras terjadi.

Ratusan rumah di Situbondo rusak diterjang banjir bandang. Di daerah-daerah lain yang dilanda banjir, ratusan hektar sawah dan tambak terendam, para petani gagal panen, jalan rusak dan jembatan putus menganggu perekonomian. Dalam suasana keprihatinan sedemikian itu, terasa pas seruan Yesus di salib, serupa solider, senasib dengan para korban dan penderita, ”AllahKu, Ya AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”

Bencana yang mengakibatkan penderitaan dan kerugian tidak dapat dihindari. Namun, bencana, penderitaan dan kerugian mempunyai pengaruh menyempurnakan, mengganti dan mengubah. Aneka kesulitan itu memiliki karakteristik menjernihkan, memiliki sifat menggerakkan, sekaligus menciptakan kewaspadaan serta menghilangkan kelemahan. Itulah hikmah dalam bencana. Itulah kebangkitan, sesudah kematian.

Para korban banjir, pemerintah dan aparaturnya, lembaga swadaya masyarakat, partai politik dan masyarakat dapat belajar dari bencana yang serentak menimpa beberapa daerah. Betapa penting mengkoordinasi bantuan agar bantuan tepat sasaran secara efektif dan efisien tanpa mempedulikan kepentingan pribadi (self interest). Betapa penting mendahulukan aspek kemanusiaan korban daripada memperdebatkannya.

Tak kalah penting ialah deteksi dini demi pengurangan resiko bencana. Juga upaya pencegahan jangka panjang dengan penghijauan dan pemanfaatan tanggul sesuai peruntukan. Habis bencana, penderitaan dan kerugian diharapkan terbitlah kearifan. Orang terkena bencana itu biasa, tetapi orang terkena bencana lalu bangkit lagi itu luar biasa.

Demikianlah, kehidupan lebih kuat dari kematian. Kehidupan yang kuat terpancar dari sikap penuh daya hidup, tidak rapuh dan bahkan tidak memikirkan diri sendiri, merupakan sikap sungguh berharga di dalam dunia ini. Hanya orang yang paling kuat, yang tahan dalam perjuangan mempertahankan hidup (strugle for life). Sedangkan orang yang tak punya daya hidup, rapuh dan lemah akan rebah dan musnah, sesuai hukum alam yang hanya memungkinkan yang paling kuat yang sanggup bertahan (survival of the fittest).

Tak seorang pun ingin menjadi orang malang, melainkan mujur. Tak seorang pun ingin terlalu lama berduka, melainkan bahagia. Serupa pepatah, orang jatuh itu biasa, tetapi orang jatuh lalu bangkit lagi itu luar biasa. Misteri Paskah mengajak untuk menghayati rahasia agung, mati lalu bangkit. Justru dan hanya karena itu manusia dapat hidup dengan sepenuh-penuhnya.

Banjir bandang telah merusakkan rumah, menenggelamkan ratusan hektar sawah dan tambak siap panen, meluluhlantakkan jalan dan jembatan, menganggu perekonomian dan membuat kehidupan suram dan sesak. Dalam keadaan tanpa harapan, betapa berharganya sosok pewarta harapan bagi yang mengalami keterpurukan. Pewarta harapan ialah para penyumbang dan sukarelawan yang tergerak hati membantu dengan tulus hati.

Misteri agung, mati lalu bangkit memiliki bentuk yang tak terbilang jumlahnya, seperti perhatian manusiawi yang hangat kepada orang membutuhkan bantuan, tersenyum menyapa dengan sepatah kata yang memberi semangat atau merelakan diri terlibat dalam karya sosial nyata. Semua tanda perhatian yang sederhana ini dapat berarti kehidupan baru yang juga berarti memberi kebangkitan bagi sesama.

Dengan mengambil bagian dalam kebangkitan Yesus yang memberi kehidupan, manusia mengatasi kelemahan, ketakutan akan maut, dosa dan neraka. Partisipasi memberi hidup dengan cara apapun, berarti ikut serta dalam kebangkitan Yesus. Hidup itu lebih kuat dari maut. Cinta kasih, pemberian diri secara radikal telah mengalahkan kematian. Hidup, cinta kasih dan pemberiaan diri itulah yang harus kita wartakan.

Inilah pesan paskah, tidak percuma menyerahkan hidupnya sendiri agar orang lain dapat hidup, tidak percuma mengulurkan tangan membantu agar para korban ringan beban hidupnya, tidak percuma mengorbankan waktu, biaya dan tenaga agar para korban kembali memiliki semangat hidup. Selamat Paskah 2008.

Sunday, February 17, 2008

Paskah: Korban Dan Pengorbanan (dimuat di majalah Inspirasi No. 43 Tahun IV, Maret 2008


Mengapa harus banyak korban ?
Adilkah ini ?
Tanpa kita tahu apa salah mereka
(Puisi: Semenjak 27 Maret 1999)

Sejak tanggal 28 Januari 2008 lalu, para korban, simpatisan, sanak saudara kekerasan di masa lalu serta beberapa LSM berkumpul di tugu Proklamasi, Jakarta. Mereka bersimpati mengenang korban pembunuhan, pemenjaraan massal 1965, kejahatan terhadap kelompok Islam (peristiwa Tanjung Priok dan Talangsari), pembunuhan misterius 1980-an, operasi militer di Aceh dan Papua, penyerbuan ke Timor Leste, penembakan mahasiswa serta penghilangan dan penculikan aktifis pro demokrasi 1997-1998. Mereka menghendaki penyelesaian aneka kasus kekerasan warisan masa lalu yang tak bisa dilupakan begitu saja. Mereka akan terus mengingat dan menuntut penyelesaian secara bermartabat, yaitu lewat proses hukum dan keadilan yang layak.

Nasib para korban selama ini seolah menggelap karena digelapkan. Negara seakan menggelapkan pelaku, penanggungjawab bahkan negara menjadi pelaku impunitas terhadap kasus tersebut, dengan terus mengabaikan penuntasannya. Bertahun-tahun para korban dan keluarga korban, dengan segala upaya dan daya telah mengartikulasikan segala asa, rasa, dan tuntutan pada setiap mereka yang berkuasa.

Ketika para korban memperjuangkan martabat dan keadilan, pada saat yang sama pelangaran dan kekerasan masih terus terjadi. Misalnya, kasus-kasus kekerasan terhadap kebebasan berekspresi, kekerasan terhadap orang atau kelompok yang memiliki keyakinan berbeda. Belum lagi yang terjadi pada kelompok minoritas, pekerja seks komersial di Kediri yang tewas akibat dikejar aparat, diskriminasi terhadap penyandang cacat, kelompok miskin yang jauh dari akses kesehatan, rumah, pekerjaan, serta pendidikan (kelayakan hidup). Tidak terkecuali warga yang menjadi korban pencemaran lingkungan akibat perusahaan melakukan penyimpangan yang merugikan masyarakat. Pendek kata, pembangunan masih mengakibatkan korban baru yang mengabaikan kaum miskin dan marjinal.

Korban
Ide tentang korban pertama-tama dilakukan oleh suku Andonik, untuk mengenangkan dan lebih memberikan kesan pada generasi penerus. Konsep korban, dosa dan penebusan sangat berkaitan. Korban tidak dapat dilepaskan dari konsep purba tentang dosa dan tabu (larangan).
Gagasan tentang korban bukanlah perkara yang sederhana. Dorongan untuk menyembah, memunculkan konsep korban. Ada dua jenis korban dalam konsep awal, ialah korban pemberian ucapan syukur (gift) dan korban hutang. Konsep ini kemudian berkembang menjadi bentuk silih atau penggantian (substitusion). Selain itu muncul upacara korban pendamaian dan konsep dosa asal. Korban itulah yang diberikan dalam bentuk penyembahan kepada dewa-dewa. Raja Firaun di Mesir pernah mengorbankan ratusan ribu budak, binatang, kapal, patung emas, roti dan uang. Manusia primitif pun masih menganggap hewan adalah kerabat manusia maka korban binatang itu penting. Sesudah itu, kanibalisme berubah menjadi mortifikasi daging. Nilai korban dihitung dari rasa sakit yang diderita, contohnya melukai badan. Konsep korban adalah konsep yang sangat primitif dan tidak beradab.

Kitab Suci mengubah pandangan keliru tentang korban. Firman Tuhan kepada Yesaya mengatakan: "Untuk apa itu korbanmu yang banyak-banyak ? Aku sudah jemu akan korban-korban bakaran berupa domba jantan dan akan lemak dari anak lembu gemukan, darah lembu jantan dan domba-domba dan kambing jantan tidak Kusukai. Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku. Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku akan memalingkan muka-Ku, bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah. Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda !” (Yes 1: 11-17).

Jelas bahwa Tuhan tidak menghendaki korban. Tuhan justru memalingkan wajahNya, meskipun korban bakaran hewan itu jumlahnya banyak. Apalagi korban itu tidak berasal dari hati yang iklas dan hasil kejahatan semata. Tuhan lebih menghendaki perbuatan baik, keadilan, pembelaan terhadap kaum miskin dan marjinal, daripada sekedar korban.

Yesus pun mengatakan, ”Mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan." (Markus 12:33). Yesus menempatkan korban bukan sebagai bentuk utama persembahan kepada Tuhan. Pengabdian kepada Tuhan diarahkan dalam bentuk yang bermartabat dan beradab ialah mengasihi Tuhan dan sesama secara nyata.

Yesus menyelamatkan para korban. Banyak kisah Injil yang menunjukkan bagaimana Yesus menyembuhkan mereka yang sakit dan yang buta. Injil Matius menuliskan demikian: “Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Surga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan” (Mat 9:35). Yesus membela seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah, yang tak berdaya dan secara sewenang-wenang hendak dijatuhi hukuman yang kejam, tidak berperikemanusiaan dan merendahkan martabat manusia. Yesus membela wanita tersebut karena wanita itu menjadi korban diskriminasi para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Yesus yakin manusia berhak mendapatkan perlakuan beradab. Yesus pun memberikan peninggalan baru kebaktian Paskah. Ia memperbaiki inkonsistensi dan kemustahilan teologi sistem kebaktian kepada Tuhan, dari yang semula serba korban bakaran menjadi lebih bermartabat dan beradab.

Perbaikan Bukan Penghancuran
Konsep tentang korban yang bermartabat dan beradab, bukan lagi mengorbankan suatu obyek. Yesaya membawa konsep baru korban yang lebih bermakna mengorbankan diri atau kerelaan subyek melakukan perbuatan baik, keadilan, pembelaan terhadap kaum miskin dan marjinal. Yesus menghendaki bentuk korban yang nyata ialah mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian, segenap kekuatan dan juga mengasihi sesama manusia. Demikianlah ketika peradaban semakin maju, kesadaran konsep korban itu berkembang, bukan demi penghancuran, tetapi demi perbaikan.

Pengorbanan menjadi sangat berarti ketika menjadi ungkapan pemberian diri kepada Allah, yang berarti demi membantu sesama. Korban yang sempurna tak lain ialah pengorbanan Yesus sendiri ketika Ia membawa perbaikan dan keselamatan manusia. Pengorbanan diri Yesus merupakan ungkapan cinta kasih total, mengatasi sekedar pemberian uang derma atau barang material lainya. Pengorbanan diri Yesus membawa perbaikan serupa solidaritas sosial. Yesus menjadi korban yang sama nasibnya dengan para korban kekerasan, ketidakadilan dan ketidakberadaban.

Perendahan diri Yesus, Allah yang menjadi manusia, yang rela menderita, mengekspresikan pemberian (gift) dan bentuk silih atau penggantian (substitusion) atas kekerasan, kejahatan, ketidakadilan dan ketidakberadaban. Pengorbanan memang seharusnya lahir dari kerelaan kaum kaya, kuat dan kuasa, bukan sebaliknya. Pengorbanan tidak dapat dituntut secara terus menerus dari pihak korban yang tak berdaya, miskin dan marjinal. Pengorbanan dari mereka yang lemah merupakan, fenomena keliru dan sangat memalukan.

Teladan pengorbanan diri Yesus tidak hanya berhenti tataran individual, tapi juga berdampak pada tataran sosial. Dengan kata lain, pengorbanan diri Yesus merupakan pengagungan universalitas nilai-nilai kemanusiaan. Transformasi pengorbanan diri Yesus di kayu salib membuka mata setiap pengikutNya untuk melakukan reorientasi terhadap pola penghayatan keimanannya dengan menafsirkan dan memberi makna baru, arti korban dan pengorbanan.

Pada diri Yesus di salib pertama-tama tampilah trauma dan kengerian mendalam untuk tidak mengulang kekerasan, pembunuhan, pemenjaraan, serbaneka kejahatan kemanusiaan, pembunuhan misterius, militerisme, penyerbuan, penembakan, penghilangan serta penculikan. Pengorbanan diri Yesus justru memiliki urgensi makna yang bisa dijadikan legitimasi bagi terwujudnya obsesi-obsesi sosial. Ialah: pentingnya menghormati kehidupan, menghormaati martabat manusia, menjunjung tinggi kemanusiaan yang adil dan beradab serta pemerdekaan dari segala bentuk kesewenang-wenangan, kemiskinan, kekerasan, ketidakadilan dan ketidakberadaban

Maka setiap kali, paskah menampilkan penderitaan dan setiap kali ekaristi mengenangkan penyerahan diri Yesus, itulah kontinuitas yang suci. Agama memang memuat unsur-unsur sakral. Sakralitas, menurut Emile Durkheim, mampu membangkitkan perasaan kagum dan memiliki kekuatan mengatur tingkah laku manusia serta kekuatan untuk mengukuhkan nilai-nilai moral. Demikian pula, paskah mengingatkan para pengikut Yesus untuk tidak setuju terhadap segala bentuk penghancuran martabat hidup manusia secara sadis. Paskah merupakan saat untuk dengan jernih membatinkan pengorbanan diri Yesus yang luhur. Peringatan paskah tidak cukup hanya dengan menangis haru mengingat penderitaan para korban, tetapi solider dengan para korban dan menentang segala cara yang hanya akan melahirkan korban-korban baru. (A. Luluk Widyawan, Pr, imam praja Keuskupan Surabaya)